Menilik Sejarah Panjang Hubungan Politik Indonesia dan Malaysia: Dari Masa Konfrontasi Hingga Kerjasama Erat

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia sering kali digambarkan bagaikan “saudara serumpun” yang penuh dengan dinamika pasang surut. Sebagai dua negara bertetangga di Asia Tenggara yang berbagi akar budaya dan bahasa, perjalanan politik keduanya telah melewati berbagai fase krusial, mulai dari ketegangan militer hingga menjadi pilar utama dalam stabilitas kawasan melalui organisasi ASEAN.

Era Konfrontasi dan Ketegangan Awal

Titik paling kritis dalam sejarah kedua negara terjadi pada awal 1960-an yang dikenal dengan masa Konfrontasi. Dipicu oleh ketidaksetujuan Presiden Soekarno terhadap pembentukan Federasi Malaysia yang dianggap sebagai proyek neokolonialisme Inggris, hubungan kedua negara sempat memanas secara militer. Slogan “Ganyang Malaysia” menjadi representasi dari ketegangan politik saat itu. Namun, transisi kepemimpinan di Indonesia ke era Orde Baru membawa angin perubahan besar. Melalui Perjanjian Bangkok pada tahun 1966, kedua negara sepakat untuk mengakhiri permusuhan dan membuka lembaran baru dalam hubungan bilateral.

Konsolidasi Melalui Wadah Regional

Setelah masa konfrontasi berakhir, Indonesia dan Malaysia justru menjadi motor penggerak terbentuknya ASEAN pada tahun 1967. Kesamaan visi untuk menjaga kawasan Asia Tenggara dari pengaruh Perang Dingin menyatukan kedua negara dalam kerjasama yang lebih terstruktur. Hubungan politik tidak lagi hanya berfokus pada penyelesaian konflik, tetapi beralih pada penguatan ekonomi dan keamanan regional. Kerjasama di Selat Malaka sebagai jalur perdagangan tersibuk di dunia menjadi bukti betapa ketergantungan strategis antara Jakarta dan Kuala Lumpur sangatlah tinggi bagi stabilitas global.

Transformasi Menuju Kerjasama Strategis Modern

Di era modern, tantangan hubungan kedua negara bergeser pada isu-isu yang lebih kompleks seperti perlindungan tenaga kerja migran, sengketa batas wilayah laut, hingga klaim budaya. Meski terkadang muncul riak-riak di tingkat akar rumput, secara politik dan diplomasi, kedua negara tetap mempertahankan komunikasi yang erat. Pertemuan rutin tingkat tinggi antar pemimpin negara memastikan bahwa setiap gesekan dapat diselesaikan melalui meja perundingan. Kini, fokus utama kerjasama keduanya mencakup sektor investasi teknologi, pariwisata, dan upaya bersama dalam menghadapi isu kelapa sawit di pasar internasional, mempertegas posisi mereka sebagai mitra strategis di Asia.