Diplomasi Hijau Indonesia Dapat Sorotan Dunia di Forum Pemimpin Global Belém 2025

Belém, Brasil — Indonesia kembali mencuri perhatian dunia dalam Forum Pemimpin Global Belém 2025 yang digelar bersamaan dengan Konferensi Perubahan Iklim COP30. Dalam forum yang dihadiri lebih dari 190 negara tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat diplomasi hijau melalui aksi nyata dalam perlindungan hutan tropis, pengelolaan laut berkelanjutan, dan transisi energi bersih.

Langkah konkret pemerintah Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan menjadi salah satu topik utama yang disorot para pemimpin dunia. Delegasi Indonesia, yang dipimpin langsung oleh Presiden dan Menteri Lingkungan Hidup serta Menteri Luar Negeri, memaparkan strategi nasional menuju emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat.

Komitmen Indonesia untuk Transisi Hijau

Dalam pidatonya di sesi pleno, Presiden Indonesia menegaskan bahwa diplomasi hijau bukan hanya agenda politik luar negeri, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional jangka panjang. Pemerintah Indonesia berkomitmen memperluas kerja sama internasional untuk memperkuat pendanaan hijau, investasi energi terbarukan, dan restorasi ekosistem.

“Indonesia memiliki tanggung jawab moral sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Kami ingin menjadi bagian dari solusi global, bukan bagian dari masalah,” ujar Presiden di hadapan forum.

Langkah konkret tersebut tercermin melalui inisiatif Tropical Forest Forever yang diperkenalkan Indonesia tahun sebelumnya, dengan tujuan menjaga 120 juta hektare hutan tropis di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Program ini mendapatkan dukungan luas dari negara-negara Amerika Latin dan Afrika yang memiliki kondisi serupa.

Pengakuan Dunia terhadap Peran Indonesia

Berbagai pemimpin dunia memberikan apresiasi atas upaya Indonesia dalam membangun keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Direktur Eksekutif UN Environment Programme (UNEP) menyebut Indonesia sebagai contoh negara berkembang yang berhasil menunjukkan “model ekonomi hijau inklusif” dengan menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam konservasi sumber daya alam.

Selain itu, Indonesia juga aktif memimpin inisiatif Blue Carbon Partnership, kerja sama global untuk melindungi ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Program ini dipandang penting karena Indonesia memiliki salah satu kawasan pesisir terluas di dunia dan menyimpan potensi penyerapan karbon alami yang besar.

Tantangan dan Langkah ke Depan

Meski mendapat apresiasi, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam menerapkan kebijakan hijau, termasuk persoalan pendanaan, tumpang tindih regulasi, serta konflik kepentingan antara pelaku industri dan konservasi. Untuk itu, pemerintah terus mendorong kemitraan antara sektor publik dan swasta guna memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Dalam forum di Belém, Menteri Luar Negeri Indonesia menekankan pentingnya transparansi dan kolaborasi global untuk memastikan implementasi komitmen iklim berjalan efektif. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Dunia membutuhkan solidaritas nyata, bukan hanya janji,” tegasnya.

Indonesia Menuju Pemimpin Diplomasi Iklim Global

Forum Pemimpin Global Belém 2025 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan peran sentralnya dalam diplomasi lingkungan internasional. Dengan mengedepankan prinsip keadilan, kolaborasi, dan keberlanjutan, Indonesia berupaya menunjukkan bahwa transformasi hijau bukan sekadar wacana, tetapi arah baru pembangunan nasional.

Melalui kebijakan yang berpihak pada lingkungan dan masyarakat, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya di panggung dunia, tetapi juga membuka jalan bagi generasi mendatang untuk menikmati bumi yang lebih lestari dan berkeadilan. Diplomasi hijau kini menjadi identitas baru Indonesia di mata dunia — sebuah langkah strategis menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.